Enklave Ranupani

Posted: September 12, 2013 in Just Share
Tags:

Hai guys, after long long time no see. You must be missing my update,right? Udah ngaku aja,gapapa kok. Aku udah biasa banyak fans. *ditoyor pembaca :D

Anyway, malam ini aku mau posting review bukunya Amin yang terbaru, judulnya Enklave Ranupani. Ceritanya tentang perjalanan Amin ke Ranupani (lagi) yang bikin mupeng, secara aku belom belom juga kesananya *poor me :p

enklave ranupane

Eh, ada yang belom kenal Amin? mau tau siapa dia? (ecieee udah kembang kempis aja tuh idungnya si Amin :p) monggo cek post sebelumnya yang judulnya Fatamorgana dulu yaa….

Oke, sekarang mari kita bahas bukunya, “Min,baru bagusnya dulu apa jeleknya? Jeleknya dulu? Oke..” (nanya sendiri, jawab sendiri :p)

Buku Enklave Ranupani ini terdiri dari 150 halaman yang ditulis oleh dua orang, Amin dan mbak Mervi (menurut sampul bukunya sih gitu). Isinya seperti yang udah diceritakan diatas adalah perjalanan Amin ke Ranupani (lagi) beserta mbak Mervi yang sepertinya baru pertama kali kesana. Begitu baca bab-bab awal, kalian pasti langsung tau betapa “wow” nya perjalanan mereka ke Ranupani.

Kita mulai dari awal yaa. Waktu awal baca, kukira yang nulis adalah Amin, aku baru tau yang tulis mbak Mervi setelah sampai di halaman 19, itupun karena ada namanya.Tulisan mbak Mervi dari halaman 2-64, sisanya Amin. Jadi bukan seperti buku kebanyakan, yang kalaupun ditulis oleh beberapa orang, kita ngga akan tau yang nulis siapa karena bahasanya yang mungkin universal dan tidak menjurus ke personal penulis. Jadi menurutku, sebaiknya diberi keterangan bagian mana yang ditulis oleh penulis yang mana (menurutku loh ya… :D)

Seperti juga komentarku di novel Amin waktu dia pertama kali menerbitkan novelnya yang Fatamorgana, di buku ini juga ada beberapa kekurangan (mungkin secara estetika penulisan aja) karena setelah baca, asumsiku bahwa mbak Mervi adalah seorang penulis pemula, dan tentu saja untuk menjadi penulis handal harus jadi pemula dulu kan? Semua harus ada “awal”nya :)

Kekurangan yang aku maksudkan itu misalnya seperti nama peserta yang ikut dalam perjalanan yang tiba-tiba muncul ditengah cerita. Penggunaan tanda seru dan huruf besar yang berserakan dimana juga mengganggu, karena seperti marah-marah padahal sebenarnya isi ceritanya nggak marah sama sekali. Trus konsistensi penggunaan kata, misalnya kata (ngga atau ga) mungkin bisa dipilih salah satu, sehingga bacanya lebih enak. Kalau masalah typo mungkin udah lumrah ya, tinggal seberapa jeli editor aja. Di buku ini juga dijumpai (lagi) istilah-istilah dalam bahasa inggris atau bahasa non-baku yang tidak diberi penjelasan yang biasanya diletakkan sebagai footnote. Buku yang diterbitkan pasti dengan niat agar bisa dibaca semua orang kan, dan nggak semua orang mengerti akan istilah-istilah tersebut, jadi sebaiknya diperjelas, biar mudah dimengerti :)

Lalu ada bagian cerita yang diulang sampai beberapa kali, dengan bahasa yang sama, misalnya cerita bahwa Better (nama biskuit – red) seharga 500 rupiah diulang sampai 3 kali dengan bahasa yang sama, bedanya disatu halaman kata-kata “Better” disensor jadi “Bett*r” dan di dua halaman lain nggak di sensor. Sebenarnya cerita yang ditulis mbak Mervi ini mengandung humor yang lumayan banyak, tapi mungkin butuh sedikit polesan pada kata-katanya biar orang yang baca terpengaruh sama tulisannya mbak Mervi ini. Buktinya aku dua kaii ketawa karena ada bagian cerita yang menurutku lucu, nice :D

Kekurangan lain mungkin nggak terlalu masalah, hanya sebatas penggunaan huruf kapital yang tidak digunakan di awal kalimat, tanda baca yang hilang, hal-hal seperti itu aja. Yang lainnya? jempol deh mbak, aku nggak bisa nulis kayak mbak *malu*

Next, aku mau komentar tentang tulisannya Amin, dari halaman 65 sampai selesai. Honestly, aku kaget baca tulisan Amin kali ini, dibandingkan novel Fatamorgana, aku hampir nggak nyoret kesalahan tulisannya. Kali ini menurutku tulisannya bisa aku kasi 4 jempol, serius. Kenapa aku bisa ngomong gitu? Oke, mari kita perjelas.

Dari awal aku bilang ini buku, karena isinya bukan cuma soal pengalaman, kalian bisa liat Amin sebagai seorang “Mahasiswa Teknil Lingkungan” mulai halaman 97. Bahasanya bagus, kalo boleh aku bilang “banget” sampe aku ngerasa sedang baca buku studi tentang lingkungan. Jadi dibuku ini, ada bagian santai dan ada bagian seriusnya. Maaf ya min, untuk buku yang ini komentarku nggak banyak, cuma mungkin masi ada beberapa tanda baca yang kurang aja, dan bahasa yang terlalu teknis, mungkin bisa dibikin sedikit ringan :)

Bagian yang menarik buatku dari buku ini adalah cerita tentang Pak Haji Amin dan anak berpipi merah. Di Takengon-Aceh Tengah, kampung halamanku, penduduk asli juga berkulit terang dan berpipi merah gitu, karena sama-sama didataran tinggi mungkin, jadi waktu Amin bahas soal pipi merah, aku jadi ingat kampung deh,hehe :D

Secara keseluruhan, aku suka buku ini. Semoga buku ini mendekatkan Amin menuju cita-citanya sebagai “Penulis Profesional”. Amiiiiiiin :D

 

 

Comments
  1. cmiph says:

    Thanks bgt Sisca buat reviewnya….saran2 nya secara garis besar akan ku tindak lanjuti … mumpung masih ada waktu sebelum bulan oktober :D Siap melahap buku berikutnya ga nih? yang rencananya mw terbit November? #Betelnut Story?

  2. […] Review lainnya tentang Antologi Artikel berjudul Enklave Ranupani dapat anda lihat di tulisan Sisca Mudyastuti berikut ini :Enklave Ranupani […]

  3. […] dicopy dari sumber aslinya : http://aphrodittecheeko.wordpress.com/2013/09/12/enklave-ranupani/ dengan beberapa […]

  4. cmiph says:

    Reblogged this on Chelonia Mydas Indie and commented:
    Sebuah Review buku antologi tentang Desa Ranupani di Kaki Gunung Semeru. Desa yang dingin dan tertutup kabut. Desa yang punya banyak keunikan. Aku jatuh cinta pada Desa Ranupani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s