Ulang Tahun Papa

Posted: May 13, 2013 in Just Share

Hari ini 13 Mei, hari ulang tahunnya papa harusnya. Ah, terlalu banyak kata untuk menggambarkan sosok seorang papaku. Laki-laki paling rajin dirumah, bahkan lebih rajin dari mama dulunya. Ngga seperti laki-laki yang kebanyakan jorok, dan berantakan, papaku malah ngga nyaman sama yang namanya kotor dan berantakan.

Papaku dulunya bangun lebih dulu dibanding mama, lalu shalat subuh, nonton tv sambil ngopi. Selagi mamaku sibuk nyiapin sarapan (semua orang wajib sarapan dirumah sebelum berangkat beraktifitas), papa bisa ngerjain banyak hal dirumah, apapun yang menurutnya belom tertata dengan baik hari itu.

Seumur hidup papaku, aku belum pernah yang namanya dimaki papa, apalagi dipukul, satu2nya yang kuingat aku pernah dicubit papa dulu waktu SD, hanya itu, papaku ngga pernah bikin sakit hati, justru pada dialah aku mengadu dan bercerita tentang semuanya.

Aku memang terlalu manja, kelas 2 SD saat beberapa teman harus menggunakan transportasi umum untuk ke sekolah, aku bahkan masih di gendong papa. Yup, umur 6 tahun, aku masih digendong pulang dan pergi sekolah (saat itu bahkan kami belum punya kendaraan). Papa bisa tiba2 datang ke sekolah cuma untuk mengantarkan buku yang tergeletak di meja ruang tamu, yang kadang lupa aku bereskan atau sengaja aku tinggalkan, hanya karena dia pikir bukuku ketinggalan dan aku akan kesulitan belajar dikelas.

Aku mulai nakal waktu SMA, seperti kebanyakan abg seumuranku. Papa ngga pernah marah waktu aku pulang lewat jam 6 sore (peraturan dirumah), atau nginap tanpa bilang. Walaupun papa bingung keliling kota ke rumah temen2ku cuma untuk memastikan aku ada disalah satu rumah temenku. Membela aku dari amukan mama, yang wajar saja marah saat tau anak gadisnya kelayapan tanpa izin dulu ke orang tua.

Semua berubah sejak kami pindah ke Jantho dan papa mulai sibuk. Kesibukannya disertai papa yang perokok aktif sejak masi kecil itu yang bikin papaku kena Anemia Aplastik, sejenis kanker darah. Setahun setelah vonis, saat kemotheraphy papa yang keempat, papa dipanggil Allah. Aku masih ingat saat itu Β tanggal 4 Juli 2008, setelah azan shalat Jumat, sebelum iqamah. Aku yang saat itu masih manja, kehilangan sandaran. Aku belum dekat sama mama saat itu, kalo kata orang-orang aku itu ya anak papa. Apa2 papa..sedikit2 papa.. Butuh waktu lama untuk pergi dari duka, aku sempat stress ringan, yang katanya awal kenapa kemampuan otakku bisa berkurang sampai setengahnya. Dan belum kembali pulih sampai sekarang.

Aku masih ingat semuanya. Makanan kesukaan papaku itu gulai kikil, telur rebus yang disambel + sayur bayam bening (ini kesukaanku juga). Aku sering kebut2an dari Banda Aceh ke Jantho sama Papa, dia ngga pernah marah saat aku melaju dengan kecepatan diatas 100 km/jam. Dia seperti tidak keberatan atas apapun, yang penting aku bahagia.

Masih banyak kebaikan papa yang aku ingat, sosok terbaik yang pernah kami miliki, wajar kalau mamaku ngga mau nyari penggantinya. Baginya memiliki seseorang seperti Papaku selama 21 tahun sudah cukup sempurna untuk seumur hidupnya. Ngga akan ada yang sesempurna itu katanya.

Semoga Allah selalu menempatkan Papaku disisinya yang paling baik, dihindarkan dari siksa kubur dan api neraka. Amiin. I love You Papa. Always.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s